0%
Kamis, 20 Oktober 2022 19:28

Abdi Mahesa : Sakke Rupa Budaya Bone

source: wikipedia
source: wikipedia

Masyarakat Bugis di masa lampau, ketika ingin melakukan pemujaan, mereka biasanya melalui peran Bissu. Bissu adalah rohaniawan dalam ajaran atturiolong sebagai kepercayaan tradisional pra-Islam yang sangat dihormati. Para Bissu dianggap sebagai medium yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia dewata secara transendental.

Dalam naskah La Galigo diungkapkan bahwa keberadaan bissu dalam budaya Bugis dianggap sebagai pendamping dan pelengkap kedatangan para tokoh Manurung dari langit. Seiring dengan pandangan religi tersebut, segala urusan spritual manusia terhadap dewa diserahkan melalui Bissu. Para Bissu lalu mengkultuskan dewa-dewa melalui ritus-ritus terhadap arajang. Pada masa kerajaan, bissu mendapat perlakuan khusus oleh pihak istana dan diagungkan sebagai posisi istimewa yang amat diperhitungkan. Bissu diberikan penghidupan yang layak oleh kerajaan. Mereka diberikan tana akkinanreng (ladang bercocok tanam) dan bola pajung (hunian di kompleks istana). Bissu mempunyai tugas memelihara berbagai benda pusaka dan tradisi. Mereka dipercaya memiliki energi magis yang dapat menjadi penghubung antara manusia dengan dewata atau arwah nenek moyang. Proses komunikasi tersebut dilakukan melalui ritual tertentu, dan biasanya dilakukan dengan penuh hikmat. Fungsi upacara yang mereka lakukan mendapat kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat karena berhubungan dengan spritualitas kepercayaan mereka.


Salah satu sumber menyebutkan kata bissu berasal dari kata Bessi (Bugis) yang berarti "bersih". Bissu dianggap bersih karena tidak berdarah, suci (tidak kotor), berpayudara, dan tidak haid. B.F Matthes menyebut bissu sebagai priesters en priesteresse, yaitu pendeta-pendeta pria-wanita yang oleh masyarakat Bugis disebut dengan Calabai. Alasan tersebut dikarenakan posisi Bissu yang suci harus mennyatukan kerakter maskulin dan feminim ketika berkomiunikasi dengan dewata sebab ia telah ditakdirkan sebagai pasangan dewa di bumi melalui upacara irebba. Atas hal tersebut sehingga Bissu dari dulu hingga kini secara umum dijumpai berasal dari laki-laki yang berkarakter feminim. Beberapa kasus lain menceritakan posisi Bissu yang berasal dari golongan wanita yang sudah tua dari kalangan bangsawan tinggi. Bissu ini yang dikenal dengan istilah core-core. Mereka terlebih dahulu berperan sebagai sanro (dukun). Pada tradisi Bugis, keberadaan Bissu perempuan tergambar dalam kisah We Tenriabeng dalam epos La Galigo. Ia diceritakan sebagai putri bangsawan tinggi maddara takku (berdarah putih) yang sering mengalami proses makkatawareng (trance) ke langit untuk menemui pasangan kahyangannya.

Dalam kronik Bone juga dikisahkan tentang sosok Ratu Bone We Benriogau yang bergelar Bissu Lalempili yang gaib bersama pusakanya di loteng rumahnya. Fenomena tersebut memberikan narasi sisi spritualitas manusia Bugis sebagai pelaku mistik yang tidak mengenal konsep gender dalam perjumpaan dengan dunia supranatural.


Seorang bissu harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang kehidupan, adat istiadat, termasuk penyelenggaraan ritual tertentu atau kerajaan dan lain-lain. Di samping itu, bissu juga bertugas untuk memelihara benda-benda pusaka milik kerajaan yang lebih dikenal dengan istilah Arajang. Dalam kehidupan masyarakat Bugis, Bissu mempunyai beberapa peran dan tugas antara lain sebagai berikut:


• Membina pengetahuan suci dan gaib seputar ilmu kosmologi Bugis kuno (panrita, sulesana, to bettu).
• Menyelenggarakan upacara dan ritus baik dalam lingkup keluarga istana maupun kalangan masyarakat (to rialu’).
• Memelihara dan menjaga arajang (pusaka kerajaan).
• Melantik dan Mendampingi Raja dan perangkat Kerajaan (paddanreng arung).
• Mendidik dan mengasuh putra-putri Raja calon pewaris kerajaan.
• Sebagai dukun yang mengobati penyakit (sanro, kajangeng, samaritu)
• Juru Rias pengantin (indo botting)
• Juru ramal masa depan (to boto)
• Menangkal penyakit dan bencana (mattola’ bala)

Populer